Dalil Kata Peletakan

0
  • Kamis, 24 Januari 2013
  • mas mimow
  • Label:


  • Dengan penjelasan terdahulu dapat dipahami bahwa perpindaham akal dari suatu kata kepada maknanya – pada dalil peletakan – terjadi karena hubungan yang sangat erat antara keduanya. Sehingga kalau kita mendengar kata-katanya seakan kita melihat maknanya. Begitu pula kalau kita melihat maknanya seakan dayang pula kata itu dalam pikiran kita. Pepindahan itu bisa terjadi hanya pada akal yang mengetahui hubungan keduanya.
                  Dengan demikian kita dapat mendefinisikan bahwa dalil kata peletakan (wadh’iyah) – yang bersuara atau tidak  - adalah “suatu kata yang dengan mengetahuinya dari pembicaraan atau penulis- Dapat mengetahui makna yang dimaksud”

            Pembagian Dalil Kata.
                  Dilihat dari segi cocok tidaknya suatu kata pada maknanya, kata dibagi menjadi tiga (3)  è


    1.    Dalil kata cocok (muthabiqiah)
       Dalil kata cocok adalah kata yang menjadi pendalil terhadap seluruh makna yang telah diletakkan semula. Seperti, pendalialan kata “buku” terhadap seluruh maknanya. Maka masuklah kulitanya, tulisan atau gambarnya, dan seluruh kertas.
       “dalil cocok” ini sebenarnya merupakan asal asal daripada suatu kata. Sedangkan kedua dan ketiga dalam pembagian berikut merupakan cabang dari dalil cocok ini.

    2.dalil kandungan atau bagian (tadhamunniyah,implication)
       Dalil kata kandungan adlah kata yang menjadi pendalil terhadap sebagian makna awal. Misalmya pada kalimat “buku anda merah” kata “buku” hanya menjadi pendalil terhadap kulitnya saja.

    3.Dalil kata kelaziman (iltizam, cocomitance)
       dalil kata yang menjadi pendalilterhadap suatu makna yang bukan mananya, baik cocok atau bagian, namun merupakan kelaziman makna asalnya. Seperti pendalilan kata air terhadap gelas pada kalimat, “berilah aku air”
                   Syarat-syarat dalil kata kelaziman antara lain :
    1.     kelaziman antara arti kata dan arti kelazmannya merupakan kelazimannya merupakan kelaziman dalam akal. Jadi, kelziman keduanya tidak boleh diluar akal.
    2.     kelaziamn antara keduanya harus merupakan kelaziman yang jelas ; yakni begitu menggambarkan makna pertama, ia – akal – langsung dapat mengagambarkan makna kedua yang menjadi kelazimannya.
                              Perhatikan diagram dibawah ini:



      
                                                                        Cocok


     


                                          Dalil Kata                           Kandungan

                                                                                       Kelaziman





    0 komentar:

    Posting Komentar