Ketika kita melihat asap, maka pikiran kita beralih pada suatu
wujud lain, yaitu api. Hal ini tidak lain karena asap itu merupakan petunjuk
atau pendalil terhadap wujud api tersebut.
Dengan contoh diatas kita dapat memposisikan –
mangkhususkan – masing-masing bagian pada kejadian itu dalam posisi berikut :
1. Asap
berfungsi sebagai pendalil.
2. Api berfungsi sebagai yang didalili.
3.
Tabiat (sifat) asap
yang membawa akal kita kepada apa yang disebut sebagai dalil.
Begitulah, setiap yang kita ketahui – dari
penglihatan, pendengaran, penciuman dan lain-lain – yang dengan mengetahuinya
akal kita berpindah darinya kepada sesuatu yang lain, di katakana sebagai
pendalil, dan yang kita ketahui berikutnya sebagai yang didalili atau sebagai
yang di tunjuki, sedangkan sifat yang dimiliki – yaituyang memindahkan akal
kita kepada yang didalili disebut dalil.
Dengan demikian dalil dapat didefinisikan sebagai :Sesuatu
yang kalau diketahui, akal akan mengetahui sesuatu yang lain.
Pembagian Dalil
Sebab dari perpindahan akal diatas, adalah pengetahuan
akal itu sendiri terhadap ertanya hubungan didalam akal antara pendalil dan
yang didalili. Sedang keeratan itu itu sendiri disebabkan oleh pengetahuan akal
tentang keeratan keduanya di luar akal.
Karena keertan
keduanya – pendalil dan yang didalili
bermacam-macam bentuknya, maka dalil di bagi menjadi tiga (3) è
Aqliyah (secara akal), Natural (Thabi’iah) dan
Wadh’iyah (peletakan)
1. Dalil
Aqliyah (secara akal)
Dalil
aqliyah adalah kalau keeratan antara pendalil dan yang didalili, diluar akal,
merupakan keeratan zati atau hakiki, seperti efek dan pengefek. Ketika melihat
bekas tapak kaki, atau rambu dijalan yang keduanya merupakan efek, akal kita
berpindah darinya kepada suatu yang lain, yaitu adnya orang yang berjalan atau
adanya pembuat rambu – yang keduanya sebagai pengefek.
Maka, bekas tapak kaki dan rambu berfungsi sebagai
pendalil terhadap adanya orang yang berjalan atau pembuat rambu, dengan dalil
akal. Hasil dalil akal tidak bisa berbeda pada setiap orang.
Dalil akal dibagi menjadi dua (2) Yaitu:
(i). Dalil Aqliyah yang bersuara.
Yaitu yang pendalilnya berupa suara atau yang bisa
didengar. Seperti kalau kita mendengar suara orang berbicara diluar rumah yang
tak yampak, kita dengan pendengaran tadi dapat mengetahui adanya orang yang
berbicara diluar rumah tersebut.
(ii).Dalil Aqliyah yang
tidak bersuara
Yaitu yang pendalilnya
tidak berupa suara . seperti bekas tapak kaki,
rambu jalan, asap seperti pada contoh di atas.
2. Dalil Tabiat (thabi’iyah, Natural)
Dalil natural adalah kalau keratan antara pendalil dan
yang didalili, diluar akal, merupakan keeratan yang sesuai dengan tabiat
manusia. Seperti kalau kita mendengar kata “aduh”, akal kita
berpindah darinya kepada suatu yang lain, misalnya orang yang mengucapkan kata
tadi kesakitan, keheranan dan lain-lain.
Hasil dari tabiat bisa berbeda sesuai dengan natural
atau kebiasaan masing-masing orang, kelompok, suku, atau bangsa. Seperti kata
“ah” bagibangsa kita Indonesia bermakna kesal, kecewa dan lain-lain. Namun,
bagi orang arab bermakna atau menunjukkan rasa sakit.
Dalil tabiat ini di bagi menjadi dua (2)
yaitu è
(i).Dalil tabiat yang bersuara
Yaitu yang pendalilnya berupa suara.
Seperti pada conto diatas.
(ii).Dalil tabiat yang tida
bersuara.
Dalil tabiat yang tidak
bersuara yaitu yang pendalilnya tidak bersuara, seperti pucat pada wajah, yang
bermakna orang tersebut malu, sakit, takut dan lain-lain.
3. Dalil Peletakan (wadh’iyah)
Dalil peletakan adalah kalau keeratan antara
pendalil dan yang didalili merupakan keeratan yang timbul karena pengistilahan
atau peletakan, yang menjadikan adanya salah satu dari keduanya – pendalil –
sebagai dalil terhadap wujud yang lain – yang didalili. Seperti kata “buku”
pada bukunya. Jadi kata “buku” mempunyai hubungan erat dengan maknanya karena
peletakan, bukan hubungan hakiki atau natural. Dengan dasar bersuara tau
tidaknya dalil ini juga dibagi menjadi dua (2)
è
(i). Dalil peletakan yang bersuara, yaitu yang
pendalilnya berupa suara. Seacam kata “buku” pada contoh diatas.
(ii).Dalil peletakan
yang tidak bersuara, semacam kata bukan yang dituliskan, atau semacam rambu
jalan, misalnya penunjukan tanda berhenti, belok kanan,dll…
Peringatan !
Dengan melihat rambu-rambu jalan, kita dapat
mengetahui dua hal.
Pertama, kita
mengatahui bahwa ada orang yang membuat rambu-rambu tersebut. Dalil yang
demikian adalah dalil Aqli
Kedua,
mengatahui bahwa kita
disuruh berhenti atau belok kanan/kiri, misalnya. Maka dalil ini adalah dalil
peletakan.
Perhatikan diagram dibawah ini è
Bersuara
Aqliah
Tidak
bersuara
Bersuara
DALIL Tabiat
Tidak
bersuara
Bersuara
Peletakan
Tidak
bersuara
Ok semakin menarikan insya ALLAH akan kita lan jutkan di postingan berikutnya..
0 komentar:
Posting Komentar