D A L I L

0
  • Selasa, 22 Januari 2013
  • mas mimow
  • Label:


  •       Ketika kita melihat asap, maka pikiran kita beralih pada suatu wujud lain, yaitu api. Hal ini tidak lain karena asap itu merupakan petunjuk atau pendalil terhadap wujud api tersebut.
                   Dengan contoh diatas kita dapat memposisikan – mangkhususkan – masing-masing bagian pada kejadian itu dalam posisi berikut :

    1.     Asap berfungsi sebagai pendalil.
    2.     Api berfungsi sebagai yang didalili.
    3.               Tabiat (sifat) asap yang membawa akal kita kepada apa yang disebut sebagai dalil.
                   Begitulah, setiap yang kita ketahui – dari penglihatan, pendengaran, penciuman dan lain-lain – yang dengan mengetahuinya akal kita berpindah darinya kepada sesuatu yang lain, di katakana sebagai pendalil, dan yang kita ketahui berikutnya sebagai yang didalili atau sebagai yang di tunjuki, sedangkan sifat yang dimiliki – yaituyang memindahkan akal kita kepada yang didalili disebut dalil.
                   Dengan demikian dalil dapat didefinisikan sebagai :Sesuatu yang kalau diketahui, akal akan mengetahui sesuatu yang lain.
                   Pembagian Dalil
                   Sebab dari perpindahan akal diatas, adalah pengetahuan akal itu sendiri terhadap ertanya hubungan didalam akal antara pendalil dan yang didalili. Sedang keeratan itu itu sendiri disebabkan oleh pengetahuan akal tentang keeratan keduanya di luar akal.
                   Karena keertan keduanya – pendalil dan yang didalili  bermacam-macam bentuknya, maka dalil di bagi menjadi tiga (3) è
          Aqliyah (secara akal), Natural  (Thabi’iah) dan Wadh’iyah (peletakan)

    1.    Dalil Aqliyah (secara akal)
                   Dalil aqliyah adalah kalau keeratan antara pendalil dan yang didalili, diluar akal, merupakan keeratan zati atau hakiki, seperti efek dan pengefek. Ketika melihat bekas tapak kaki, atau rambu dijalan yang keduanya merupakan efek, akal kita berpindah darinya kepada suatu yang lain, yaitu adnya orang yang berjalan atau adanya pembuat rambu – yang keduanya sebagai pengefek.
                   Maka, bekas tapak kaki dan rambu berfungsi sebagai pendalil terhadap adanya orang yang berjalan atau pembuat rambu, dengan dalil akal. Hasil dalil akal tidak bisa berbeda pada setiap orang.
                   Dalil akal dibagi menjadi dua (2) Yaitu:
                (i). Dalil Aqliyah yang bersuara.
                      Yaitu yang pendalilnya berupa suara atau yang bisa didengar. Seperti kalau kita mendengar suara orang berbicara diluar rumah yang tak yampak, kita dengan pendengaran tadi dapat mengetahui adanya orang yang berbicara diluar rumah tersebut.
                (ii).Dalil Aqliyah yang tidak bersuara


    Yaitu yang pendalilnya tidak berupa suara . seperti bekas tapak kaki,  rambu jalan, asap seperti pada contoh di atas.

                   2. Dalil Tabiat (thabi’iyah, Natural)
                   Dalil natural adalah kalau keratan antara pendalil dan yang didalili, diluar akal, merupakan keeratan yang sesuai dengan tabiat manusia. Seperti kalau kita mendengar kata aduh, akal kita berpindah darinya kepada suatu yang lain, misalnya orang yang mengucapkan kata tadi kesakitan, keheranan dan lain-lain.
             Hasil dari tabiat bisa berbeda sesuai dengan natural atau kebiasaan masing-masing orang, kelompok, suku, atau bangsa. Seperti kata “ah” bagibangsa kita Indonesia bermakna kesal, kecewa dan lain-lain. Namun, bagi orang arab bermakna atau menunjukkan rasa sakit.
               Dalil tabiat ini di bagi menjadi dua (2) yaitu è
                                          (i).Dalil tabiat yang bersuara
                                              Yaitu yang pendalilnya berupa suara. Seperti pada conto diatas.
                                          (ii).Dalil tabiat yang tida bersuara.
    Dalil tabiat yang tidak bersuara yaitu yang pendalilnya tidak bersuara, seperti pucat pada wajah, yang bermakna orang tersebut malu, sakit, takut dan lain-lain.
                  
                   3. Dalil Peletakan  (wadh’iyah)
                     Dalil peletakan adalah kalau keeratan antara pendalil dan yang didalili merupakan keeratan yang timbul karena pengistilahan atau peletakan, yang menjadikan adanya salah satu dari keduanya – pendalil – sebagai dalil terhadap wujud yang lain – yang didalili. Seperti kata “buku” pada bukunya. Jadi kata “buku” mempunyai hubungan erat dengan maknanya karena peletakan, bukan hubungan hakiki atau natural. Dengan dasar bersuara tau tidaknya dalil ini juga dibagi menjadi dua (2)  è
    (i). Dalil peletakan yang bersuara, yaitu yang pendalilnya berupa suara. Seacam kata “buku” pada contoh diatas.
    (ii).Dalil peletakan yang tidak bersuara, semacam kata bukan yang dituliskan, atau semacam rambu jalan, misalnya penunjukan tanda berhenti, belok kanan,dll…




                     Peringatan !
                     Dengan melihat rambu-rambu jalan, kita dapat mengetahui dua hal.
               Pertama, kita mengatahui bahwa ada orang yang membuat rambu-rambu tersebut. Dalil yang demikian adalah dalil Aqli 
               Kedua, mengatahui bahwa kita disuruh berhenti atau belok kanan/kiri, misalnya. Maka dalil ini adalah dalil peletakan.
                                          Perhatikan diagram dibawah ini è


                                                                                                       Bersuara
                                                                     Aqliah


     
                                                                                                      Tidak bersuara

                                                                                                        Bersuara

                   DALIL                                  Tabiat
                                                                                                       Tidak bersuara


                                                                                                        Bersuara
                                                                  Peletakan

                                                                                                        Tidak bersuara
     Ok semakin menarikan insya ALLAH akan kita lan jutkan di postingan berikutnya..

    0 komentar:

    Posting Komentar