Makna dari pembahsan
logika adalah makna dari suatu kata, bukan kata-kata itu sendiri. Akan tetapi
kita perlu membahas kata-kata itu secara umum – tanpa melihat dari segi bahasa
tertentu. Hal itu disebabkan, adanya kata-kata diperlikan untuk mencapai makna,
dan dalam memaknakan sesuatu, satu sama lain diantara kita memerlukan
kata-kata.
Tujuan lain yang lebih penting dari itu adalah agar
kita mempunyai gambaran dan pengertian penuhatas hakekat dan posisi lafazh itu
sendiri, sehingga dalam mencari hakekat (essensi) sesuatu atau mempercayai
suatu pro posisi universal kita tidak dipengaruhi bentuk rupa dan indahnya.
Bentuk dan rupa kata-kata bisa beragam, bahkan mungkin berubah
walaupun dalam suatu bahasa tertentu. Maka seandanya makna – hakekat – sesuatu
kita ukur dengan kata-kata, maka hakekat sesuatu itu juga bisa beragam. Padahal
hakekat (essensi) setiap sesuatu harus satu dan tidak beragam.
Perlu diketahui, bahwa salah satu daripada pembagian
wujud, adalah wujud dibagi menjadi Wujud Hakiki dan Wujud Bukan Hakiki(
i’tibari ).
1. Wujud Hakiki
Yaitu kewujudan sesuatu yang tidak dibuat-buat.
Wujud hakiki ini dibagi menjadi dua :
(i). Wujud Luar
Akal
Wujud luar akal adalah Wujud yang ada diluar akal, semacam
langit, rumah, pena, dll…yang konkret . Wujud ini disebut dengan “Wujud luar”.
Maka dari itu untuk menyelamatkan dari kerancuan pembahasan kadang kala para
ahli logika mengatakan “Rumah Khariji”(“Rumah luar” atau “rumah luar akal”).
(ii). Wujud dalam Akal
Wujud dalam Akal, yaitu gambar-gambar dari “Wujud luar” yang
ada didalam akal kita. Semacam gambaran (ilmu) akal tentang langit, rumah,
dll…. Wujud ini disebut Wujud dzihni (“Wujud dalam atau wujud dalam akal”).
Untuk membedakan dengan wujud luar, para ahli logika kadang kala
mengatakan ”rumah dzihni” (“rumah
dalam” atau”rumah dalam akal”).
2. Wujud Bukan
Hakiki
Yaitu wujud yang dibuat-buat. Wujud inijuga dibagi
menjadi dua :
(i). Wujud Kata
(Lafazh)
Manusia – satu- sama
lain – untuk mengutarakan pikiran dan keinginannya tidak bisa membawa
makna-makna alias wujud luar. Bahkan, kadang kala tidak mampu melakukannya –
misalnya ingin mengatakan bahwa laut itu luas, sedangkan ia ditempat yang lebih
jauhdari laut. Maka, maka manusia peril kepada sesuatu yang lain, demi
memudahkan komunikasinya. Kekuata fitrahnya telah membuat manusia mampu membuat
sesuatu yang diperlukannya tersebut.
Hasil buatan manusia inilah yang disebut “Kata”. Wujud
ini adalah wujud yang dibuat-buat oleh manusia sesuai dengan kesepakatannya.
Karena itulah hasil kesepakatan tersebut berbeda antara kelompok dengan
kelompok lain.
Kesepakatan yang dibuat manusia telah membuat “kata”
mempunyai hubungan eratdengan maknanya. Sehingga, ketika kita mendengar katanya
– misalnya, “langit” – seakan kita melihat makna yang dikandungnya itu sendiri.
Jadi, kata-kata berfungsi mendatangkan makna dalam akal pendengarnya.
(ii). Wujud
Tulisan (Katbi)
Dengan kata – hasil penemuannya – manusia masih belum
dapat cukup mencukupi segala keperluankomunikasinya, karena kata-kata hanya
dapat dipakai dalam komunikasi jarak dekat atau langsung, sedangkan komunikasi
yang diperlukan mencakup yang tidak langsung. Karena keperluan itulah akhirnya
manusia membuat lagi sesuatu yang baru untuk melambangkan – mewakili –
kata-kata itu, sehingga akhirnya mencapai makna. Inilah yang disebut “tulisan”.
Jadi, untuk mengutarakan pikiran dan keinginannya yang
tidak langsung – kepada yang jauh atau akan datang – manusia menggunakan
tulisan untuk mendatangkan kata-kata, yang dengan kedatangan kata-kata tersebut
akan datang pula makna yang diinginkannya pada akal pembaca tulisannya.
Perhatikan diagram berikut ini :
Wujud luar Akal è Eksistensi
Hakiki
Wujud Wujud dalam AkalèPahaman/Ilmu
Wujud Kata
Buatan
Wujud
Tulisan
0 komentar:
Posting Komentar